Seni Kaligrafi dan Masuknya Seni Kaligrafi ke Indonesia
A.
Pengertian
Kaligrafi
Kaligrafi dalam Ensikolpedia bebas Wikipedia
maupun Kamus Besar Indonesia diartikan sebagai seni menulis indah
dengan pena sebagai hiasan. Ungkapan kaligrafi sendiri berasal dari bahasa
Latin “kalios” yang berarti indah dan “graph” yang berarti tulisan. Dalam
bahasa Inggris, kaligrafi adalah bentuk sederhana dari calligraphy, dalam
bahasa Arab biasa disebut dengan khat.
“Kaligrafi adalah suatu ilmu yang
memperkenalkan bentuk-bentuk huruf tunggal, letak-letaknya, dan cara
merangkainya menjadi sebuah tulisan yang tersusun. Atau apa-apa yang ditulis di
atas garis-garis, bagaimana cara menulisnya dan menentukan mana yang tidak
perlu ditulis; menggubah ejaan yang perlu digubah dan menentukan cara bagaimana
untuk menggubahnya”[1].
Pemaparan definisi di atas menunjukkan
bahwasannya kaligrafi adalah sebuah “aturan maen” perihal tulis menulis. Adapun
kaligrafi menurut Situmorang adalah suatu corak atau bentuk seni menulis indah
dan merupakan suatu bentuk keterampilan tangan serta dipadukan dengan rasa seni
yang terkandung dalam hati setiap penciptanya[2].
Sedangkan Yaqut Musta’shim memahami kaligrafi sebagai sebuah pengalaman
rohani kaligrafer yang terwujudkan dalam keindahan tulisan[3]
B.
Masuknya Seni
Kaligrafi Islam di Indonesia
Islam
masuk ke Indonesia pada abad ke VII. Pelakunya adalah para saudagar Arab yang
dating pertama kali di Indonesia lewat pesisir utara Sumatera. Dari sinillah
terbentuk cikal bakal komunitas muslim yang disusul oleh pendirian kerajaan
Islam pertama di Aceh. Berangkat dari sini, secara bertahap Islam mulai
mewarnai proses pembentukan kebudayaan Islam di Indonesia.
Para
saudagar Arab tidak hanya mengenalkan system norma dan etika religious saja,
tetapi juga mengenalakan corak kebudayaan, lebih khusus lagi kesenian yang
telah menjadi tradisi dalam kehidupan mereka. Hal ini disebabkan agama dan
budaya merupakan dua produk social dari masyarakat yang menyatu dan tak dapat
dipisahkan. Jika produk yang satu berasimilasi dengan masyarakat luar, maka
produk yang lain pun akan terbawa pula. Dalam konteks ini, bangsa Indonesia
lalu menyerap ajaran Islam beserta seni budayanya yang hidup di dunia Arab.
Di
antara perwujudan seni budaya di Indonesia, seni kaligrafi menduduki posisi
yang amat penting. Sebab kaligrafi merupakan bentuk seni budaya Islam yang
pertama kali ditemukan di Indonesia, bahkan sebagai tengara masuknya
Islam di Indonesia. Hal ini berdasarkan hasill penelitian tentang data
arkeologi kaligrafi Islam di Indonesia yang dilakukan Ambary (1998). Menurut
guru besar arkeologi Universitas Indonesia ini, setelah mengkaji secara
epografis, dengan seksama, ditengarai telah berkembang kaligrafi gaya Kufi
(Abad XI-XV M), gaya tsulus (abad XII-XIX M), serta gaya kontemporer lain
(sejak abad XIX sampai beberapa abad kemudian).
Data-data itu ditemukan pada batu nisan makam-makam kuno kerajaan Islam di
Aceh, kompleks makam Traloyo Mojokerto, Kraton Cirebon, Ternate, Jawa, Madura,
dan daerah lain di Indonesia.
Kenyataan
itu menegaskan bahwa sejak awal Islam masuk ke Indonesia, seni kaligrafi telah
memegang peranan penting dan menjadi aset seni budaya Islam Indonesia terdepan.
Kondisi ini terus berlanjut hingga sekarang. Signifikansi kaligrafi semakin
nyata dengan antusiasme masyarakat yang selalu menggebu dalam setiap event
pameran kaligrafi dan oleh pencapaian estetika kaligradi sendiri yang tak
pernah surut. Pada awalnya kaligrafi hanya digemari masyarakat muslim
yang berlatar belakang pesantren di daerah-daerah tertentu, tetapi kemudian
menyebar ke seluruh Indonesia.[4]
Pelopor
kaligrafi kontemporer di Indonesia adalah Ahmad Sadali dan A.D Pirous
(Bandung), Amri Yahya (Yogyakarta) dan Amang Rahman (Surabaya). Di Yogyakarta
sendiri, setelah generasi mereka lahir kaligrafer kontemporer seperti Syaiful
Adnan, Hatta Hambali, Hendra Buana, Yetmon Amier dan lain sebagainya[5]
C.
Fungsi
Kaligrafi Dalam Tradisi Seni Islam di Indonesia
Kesenian
tulis indah atau lebih dikenal dengan kaligrafi untuk masa sekarang ini, sudah
begitu akrab di kehidupan orang Islam di manapun berada. Bagi mereka, kaligrafi
memiliki berbagai fungsi serta nilai yang terkandung di dalamnya. Diantara
fungsi dan nilai tersebut adalah sebagai berikut.
c. Aspek Etika, Yaitu kesadaran ritual
keberagaman.
Melalui seni kaligrafi manusia dapat
mengetahui hekekat yang maha kuasa. Nilai-nilai Al-Quran yang diaplikasikan
ileh para kaligrafer dapat membawa para pembacanya memahami dan memaknai
kehidupan sesuai dengan ayat-ayat yang tertulis dalam kaligrafi.
[2]. Oloan
Situmorang, Seni Rupa Islam;Pertumbuhan dan Perkembangannya (Bandung:
Angkasa. 1993), hlm. 67
[3]. Nurul Huda, Melukis
Ayat Tuhan:Pengantar Praktis Berkaligrafi Arab (Yogyakarta:Gama Media.
2003), hlm 3
[4] Kamsidjo Bu, Terbentuknya Seni Lukis Kaligrafi
Islam di Indonesia, http://download.portalgaruda.org/article.php?article=136227&val=5660, diakses pada tanggal 9 Novermber 2017 pukul
20.31.
Komentar
Posting Komentar