Sejarah Peradaban Islam Di Indonesia


1.      Kedatangan Imperialisme Barat ke Indonesia
“Setelah jatuhnya Konstantinopel tahun 1453 ke tangan Turki Usmani, akses bangsa-bangsa Eropa untuk mendapatkan rempah-rempah yang lebih murah di kawasan Laut Tengah menjadi tertutup. Harga rempah-rempah melambung sangat tinggi di pasar Eropa. Oleh karena itu, mereka berusaha mencari dan menemukan daerah-daerah penghasil rempah-rempah ke timur.”[1]
Para pedagang Eropa mencari cara bagaimana agar mendapatkan rempah-rempah dengan harga yang murah. Akhirnya mereka memutuskan untuk mencari dan menemukan daerah-daerah yang menjadi sumber utama penghasil rempah-rempah. pada saat itulah mereka mulai berpetualang mengarungi samudra.
Para penjelajah samudra bergelut dengan lautan dan samudra dengan tujuan menemukan dunia baru. Yang dinamakan dunia baru pada waktu itu adalah wilayah yang merupakan pusat penghasil rempah-rempah seperti cengkeh, lada, pala dan lain-lain. Daerah itu tidak lain adalah kepulauan Nusantara. Orang-orang Eropa menyebutnya dengan nama Hindia. Namun dalam konteks penemuan dunia baru, tidak hanya Kepulauan Nusantara saja tetapi juga daerah-daerah lain yang ditemukan oleh orang-orang Eropa pada periode penjelajahan samudra, misalnya Amerika, dan daerah-daerah lain di Asia.[2]
“Pada abad ke-16 mulai terdapat suasana baru di perairan Indonesia. Selama berabad-abad perairan Nusantara hanya dilayari oleh kapal-kapal dari Indonesia dan Asia, seperti Cina, Pegu, Gujarat, Benggala, Persia, dan Arab. Tetapi sejak abad ke 16 di perairan Nusantara muncul pelaut-pelaut Eropa.”[3]
Bangsa Eropa berhasil sampai ke perairan Indonesia karena kemajuan ilmu dan teknik pelayaran. Kapal Eropa yang pertama kali berlabuh di perairan Indonesia adalah kapal Portugis. Perjalanan bangsa Portugis di sebabkan oleh beberapa faktor. Faktor utamanya yaitu dorongan ekonomi bangsa Eropa untuk membeli rempah-rempah di Nusantara dengan harga yang rendah. Faktor lainnya yaitu hasrat untuk menyebarkan agama Kristen dan melawan orang Islam.[4]
“sejak abad ke-8, kaum muslimin menguasai jazirah Andalusia, dimana terdapat negara Portugis dan Spanyol. Selama itu pula terjadi perang dan pertarungan antara orang Kristen dan kaum muslimin, baik di Andalusia, maupun kemudian di Timur Tengah. peperangan itu dikenal dengan perang Salib.”[5]
Kemenangan Islam dalam perang Salib menyisakan dendam di hati orang Kristen.  Apalagi upaya kaum Muslimin menghalang-halangi masuknya rempah-rempah dari Nusantara menambah geram bangsa Eropa. Bangsa Eropa ingin membalas dendam kepada Islam dan menyebarkan agama Kristen. Faktor lainnya yaitu hasrat berpetualang dan melihat dunia luar.[6]
Setelah Portugis, negara-negara Eropa mulai menyusul ke Nusantara, diantaranya Spanyol, Belanda, Inggris, dan  Perancis.Negara-negara  tersebut  mengirimkan para  penjelajahnya  untuk  mengarungi  samudera dan  mencari  jalan  menuju  ke  Dunia  Timur  yang terkenal  itu.Berikut ini akan dijelaskan petualangan penjelajahan samudra bangsa-bangsa Eropa menuju Kepulauan Nusantara :
A.    Portugis
1.      Bartholomeu Dias
“Bartholomeu Dias (1487-1488) yang berhasil  sampai ke ujung selatan Afrika yang disebut Tanjung Pengharapan (Cape of Good Hope).”[7]
Bartolomeu Dias berangkat dari Portugis pada tahun 1487. Dalam pelayarannya ia mengambil rute menyusuri pantai Barat Afrika. Hingga pada akhirnya sampai di ujung selatan Benua Afrika pada tahun 1488. Di sana ia terpaksa berhenti karena kapal yang di tumpanginya tidak mampu menahan ombak dan angin yang sangat besar.Pelayarannya pun gagal di ujung selatan benua Afrika. Bartolomeu menamainya sebagai Tanjung Harapan karena ia masih mempunyai harapan besar ketika gagal di sana.[8]

2.      Vasco da Gama
“Vasco da Gama (1497-1498) yang bertolak dari Lisabon menuju Kepulauan Tanjung Varde dan akhirnya tiba di Tanjung Pengharapan tahun 1497, dan tahun 1498 mendarat di di Kalikut, pantai Malabar India.”[9]
Vasco da Gama berangkat dari Lisabon ibukota Portugis pada tahun 1497. Ia mengambil rute sama seperti rute Bartolomeu yaitu pantai barat Afrika. Ia sampai di Tanjung Harapan pada tahun 1497. Ia melanjutkan pelayarannya menyusuri samudra Hindia, hingga pada tahun 1498 ia tiba di Kalikut dan Goa di pantai barat India. Di tempat itu, Vasco membangun kantor dagang yang di lengkapi dengan benteng. ia mengira bahwa disana merupakan daerah penghasil rempah-rempah.[10]
3.      Alfonso d’Albuquerque
“Alfosno d’Albuquerque (1510-1515) yang berhasil menaklukan Goa di pantai barat India pada 1510 dan Malaka (1511). Dari Malaka ia meneruskan penguasaan atas Myanmar (Burma). Dari Myanmar inilah ia menjalin hubungan dagang dengan Maluku.”[11]
Alfonso d’Albuquerque berangkat dari Portugis tahun 1510. Ia berhasil sampai di Goa dan menaklukannya pada tahun 1510. Ia mengira bahwa goa adalah daerah penghasil rempah-rempah. namun ternyata ada daerah lain yaitu Malaka. Ia pun berlayar menuju Malaka dan berhasil menaklukan kerajaan Malaka pada tahun 1511. Dari Malaka meneruskan penguasaan di Myanmar (Burma). Dari Burma ia menjalin hubungan dagang dengna Maluku.[12]
B.     Spanyol
Penjelajahan samudera yang dilakukan orang-orang spanyol di prakasai oleh Christhoper Columbus.Kemudian di lanjutkan oleh pelaut-pelaut sesudahnya yaitu :
a.       Ferdinand Magelhaens
“Ferdinand Magelhaens (1519-1521) yang dibantu oleh Kapten Juan Sebastian del Cano dan Pigafetta mulai berlayar ke arah Barat-daya dengan mengikuti rute Christopher Columbus. Magelhaens tiba di Kepulauan Filipina pada tahun 1521 setelah melintasi Samudera Atlantik terus ke ujung selatan Amerika. Magelhaens tewas di Filipina karena dibunuh oleh Suku Mactan”[13]
Magellan dan rombongannya berangkat dari Spanyol pada 1519. Di antara anggota rombongan, terdapatlah Kapten Yuan Sebastian del Cano sebagai wakil Magellan. Seorang anggota lain bernama Pigafettaialah seorang sastrawan dari Italia. Pigafetta inilah yang menuliskan kisah pelayaran Magellen.
Magellan mulai berlayar ke arah Barat-daya dengan mengikuti rute Christopher Columbus dengan mengarungi Samudra Atlantik, ke barat menuju pantai timur Amerika Selatan.Akhirnya mereka menemukan selat yang letaknya di ujung selatan Benua Amerika. Sebagai tanda peringatan, selat tersebut mereka namakan Selat Magellan.Dari selat tersebut mereka meneruskan pelayaran mengarungi samudra luas yang baru mereka jumpai. Ombak samudra tersebut tidak besar seperti samudra Atlantik. Oleh karena itu, samudra tersebut oleh Magellan diberi nama Samudra Pasifik yang artinya samudra yang damai dan tenang.
Hingga pada tahun 1521 mereka sampai di Kepulauan Massava.Kepulauan Massava itu kemudian dinamakannya kepulauan Philipina. Nama itu sesuai dengan nama Raja Spanyol Phillips II. Di kepulauan tersebut orang-orang Spanyol menyebaran agama Nasrani.
Di Philipina, rombongan Magellan mendapat perlawanan dari orang-orang Mactan. Maka terjadilah pertempuran. Magellan tewas dalam pertempuran itu. pemimpin rombongan Spanyol pun digantikan oleh Kapten Yuan Sebastian del Cano.[14]
a.       Juan Sebastian del Cano
“Pada tahun 1521ia sampai di Maluku.Kedatangan rombongan Spanyol ini menimbulkan pertentangan dengan Portugis yang dianggap telah melanggar Perjanjian Tordesillas.  Pertentangan di antaramereka berakhir setelah dibuat Perjanjian Saragosa (1534) yang  memutuskan kesepakatan batas  daerah kekuasan. Portugis tetap di Maluku, dan Spanyol di Filipina. ”[15]
C.    Belanda
“Pada bulan April 1595 berlayarlah empat buah kapal Belanda menuju kepulauan melayu di bawah pimpinan Cornelis de Houtman. Kapal itu kecil belum sebesar kapal milik portugis. Tujuan utama perjalanan itu adalah ke Jawa Barat, karena di sana tidak ada pengaruh Portugis. Pada bulan Juni 1596, empat kapal ekspedisi tersebut sampailah di pelabuhan Banten.”[16]
Faktor kedatangan Belanda tidak jauh beda dengan Portugis dan Spanyol, yaitu mendapatkan rempah-rempah dengan harga murah. Namun, melihat kekayaan Indonesia yang melimpah ruah, mereka akhirnya bertujuan untuk menjajah Indonesia.

2.      Keadaan Kerajaan-Kerajaan Islam pada Masa Datangnya Belanda
Sebelum masuknya bangsa Eropa ke Nusantara, bangsa-bangsa lain seperti India, Gujarat, Arab telah lebih dulu datang membawa agama dan peradaban. Para pribumi teleh mengenal agama-agama seperti Hindu, Budha dan Islam.
“Menjelang kedatangan Belanda di Indonesia pada akhir abad ke 16 sampai awal abad ke 17 keadaan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia tidaklah sama. Perbedaan keadaan tersebut bukan hanya berkenaan dengan kemajuan politik, tetapi juga dalam proses perkembangan Islam di kerajaan-kerajaan tersebut.”[17]
Perbedaan ini  terjadi karena Islam masuk ke daerah-daerah di Indonesia pada waktu yang tidak bersamaan. Sebab lainnya yaitu ketika Islam datang keadaan politik dan budaya daerah-daerah tersebut juga berbeda-beda. Sehingga proses Islamisasi tersebut ada yang mudah di terima dan ada yang membutuhkan proses panjang.
A.    Kerajaan Islam di Sumatera
Ketika belanda datang, penduduk kerajaan di Sumatra khususnya Aceh telah memeluk agama Islam sekitar tiga abad yang lalu.
“Salah satu dari sederetan nama kerajaan Islam terbesar di Indonesia ialah kerajaan Aceh Darussalam. Kerajaan ini berdiri pada tanggal 12 Zulqaidah tahun 916H/1511 M. Bersamaan dengan jatuhnya Malaka ke tangan Portugis”[18]
Jatuhnya Malaka jatuh ke tangan Portugis, justru membawa hikmah bagi Aceh.  Karena kekuasaan Portugis di Malaka membuat para pedagang Islam berpindah dari Malaka menuju ke Aceh. Dengan demikian perdagangan di Aceh semakin ramai. Hal ini telah mendorong Aceh berkembang menjadi bandar dan pusat perdagangan internasional dan antarkepulauan. Keadaan ini membuat Aceh semakin kuat sehingga mampu mengalahkan Johor yang merupakan kelanjutan dari kerajaan Malaka Islam.
Aceh berusaha menguasai pelabuahan-pelabuhan pengekspor lada di daerah-daerah Sumatera Utara. Kemudian ia berusaha menguasai Jambi yang ketika itu telah memeluk Islam. Aceh ingin menguasai pelabuhan-pelabuhan di Jambi karena pelabuhan tersebut merupakan pelabuhan yang banyak mengekspor lada yang dihasilkan dari daerah-daerah kecil seperti Minangkabau, lada ini diangkut melalui sungai Indragiri, Kampar dan Batanghari. Selain itu pelabuhan tersebut juga merupakan pelabuhan transito, tempat beras dan bahan-bahan lain dari Jawa, Cina, India, dan lain-lain yang diekspor ke Malaka.
Dalam waktu yang relatif lama setelah keberhasilan Aceh dalam melewati tantangan peradaban hingga mampu menguasai perdagangan di daerah-daerah Sumatra, di bawah pimpinan Sultan Iskandar Muda Aceh berhasil mencapai masa kejayaan.[19] Aceh membatasi bahkan mempersulit perizinan perdagangan asing yang hendak melakukan kerjasama dengan Aceh. Selain itu pembenahan di bidang ekonomi, politik, sosial budaya dan kegidupan beragama pun mampu di jalaninya.
“Setelah wafatnya  Sultan Iskandar Muda pada 1636, kepemimpinan di gantikan oleh Sultan Iskandar Tsani(1636-1641).”[20]
Sultan Iskandar Tsani mempunyai sikap yang berbeda dengan Sultan Iskandar Muda dalam menanggapi kaum Kolonialis. Ia sangat lunak dan kompromistis, baik terhadap Belanda, Inggris ataupun Portugis. Ini berbeda dengan sikap Sultan Iskandar Muda yang begitu ketat terhadap orang asing.”
Keterbukaan dan kemudahan Sultan Iskandar Tsani dalam menjalin hubungan dengan bangsa asing merupakan salah satu sebab mundurnya Aceh. Kemunduran ini semakin terasa ketika ia wafat dan digantikan oleh istrinya Sultanah Tajul Alam Syafituddin Syah (1641-1675). Atas kemunduran ini Sultanah terpaksa menjalin kerja sama dengan Belanda. Sikap Sultanah tersebut dijadikan Belanda sebagai suatu momentum untuk lebih menancapkan cengkeraman kuku imperialismenya. Meski sudah jauh menurun aceh masih bertahan lama menkmati kedaulatan intervensi kekuasaan asing.[21] Di akhir kehancurannya, setelah meninggalnya Sultan Iskandar Tsani, Kerajaan Aceh secara berturut-turut dipimpin oleh tiga orang wanita selama 59 tahun.[22]


A.    Kerajaan Islam di Jawa
Penyebaran Islam di Jawa mula-mula berpusat di daerah pesisir. Lambat laun Islam mulai masuk ke daerah-daerah pedalaman. Begitu pula pusat kerajaan Islam di telatah Jawa sudah berpindah dari Demak ke Panjang kemudian ke Mataram. Perpindahan ini mempunyai pengaruh besar yang sangat menentukan perkembangan sejarah Islam di Jawa, pengaruh tersebut di antaranya:
1.      Kekuasaan dan sistem politik didasarkan atas basis agraris.
2.      Peranan daerah pesisir dalam perdagangan dan pelayaran mundur, demikian juga peranan pedagang dan pelayar Jawa.
3.      Terjadinya pergeseran pusat-pusat perdagangan dalam abad ke 17.[23]
Mataram mengalami masa kejayaan ketika di pimpin oleh Sultan Agung. Mataram menguasai sebagian besar tanah Jawa kecuali wilayah Barat (Jakarta) yang dikuasai oleh kompeni Belanda. Bahkan Mataram telah menguasai seluruh jawa Timur.
“Pada tahun 1619, seluruh JawaTimur praktis sudah berada di bawah kekuasaan Mataram yang ketika itu di bawah pemerintahan Sultan Agung. Pada masa pemerintahan Sultan Agung Inilah kontak-kontak bersenjata antara kerajaan Mataram dan VOC mulai terjadi.”[24]    
       Sebagai penghasil utama dan pengekspor beras, posisi Mataram dalam jaringan perdagangan di Nusantara masih berpengaruh walaupun ekspansinya telah menghancurkan kota-kota di pesisir dan melumpuhkan sebagian perdagangan di pesisir.        
B.     Kerajaan Islam di Banten
Kerajaan islam di Banten pada waktu itu mengalami peningkatan perekonomiannya karena perdagangan ladanya dan ramenya pesisir pelabuhan Banten yang merupakan tempat pelarian orang-orang dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, Banten juga menarik perdagangan lada dari Indrapura, Lampunga dan Palembang. Adapun pelarian orang-orang Jawa Timur ke Banten disebabkan karena Merosotnya peran pelabuhan-pelabuhan Jawa Timur akibat politik Mataram dan munculnya Makassar sebagai pusat perdagangan. Hal ini membuat rute perdagangan di Indonesia bergeser dari Maluku-Jawa-Selat Malaka, menjadi Maluku-Makasar-Selat Sunda, sehingga Banten dan Sunda Kelapa menjadi daerah perdagangan yang strategis.[25]
C.    Kerajaan Islam di Sulawesi
Sejak dulu Maluku terkenal dengan rempah-rempahnya yang melimpah khususnya semerbak bunga cengkehnya. Pada abad ke 16 pelabuhan Makkasar mengalami perkembangan ekonomi yang sangat pesat. Letaknya yang strategis sebagai persinggahan ke Maluku, Filiphina, China, Patani, Kepulauan Nusa Tenggara, dan Kepulauan Indonesia bagian barat. Selain letaknya yang strategis, faktor historis juga mempengaruhi perkembangan tersebut. Adapun faktor historis tersebut yaitu:
1.      Pendudukan Malaka oleh Portugis mengakibatkan terjadinya migrasi pedagang Melayu, antara lain ke Makassar.
2.      Arus migrasi Melayu bertambah besar setelah Aceh mengadakan ekspedisi terus-menerus ke Johor dan pelabuhan-pelabuhan di Semenanjung Melayu.
3.      Blokade Belanda terhadap Malaka dihindari oleh pedagang-pedagang baik Indonesia maupun India, Asia Barat dan Asia Timur.
4.      Merosotnya pelabuhan Jawa Timur mengakibatkan fungsinya diambil oleh pelabuhan Makasar.
5.      Usaha Belanda memonopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku membuat Makassar mempunyai kedudukan sentral bagi perdagangan antara Malaka dan Maluku. Itu semua membuat pasar berbagai macam barang berkembang di sana.[26]
Para pedagang Barat ingin menguasai Maluku, Banda, Seram, dan Ambon yang menjadi pangkal perdagangan rempah-rempah. mereka ingin menerapkan sistem politik monopoli perdagangan. Hal inilah yang menyebabkan kerajaan Ternate dan Tidore mengadakan perlawanan dan peperangan yang mana dalam usaha tersebut tak ketinggalan pula peran ulama' yang dengan gigihnya merintangi dan melawan penjajah yang hendak menguasai wilayah serta perekonomian negerinya. Ternate dan Tidore berhasil mengelakkan dominasi total dari Portugis dan Spanyol, namun ia mendapat ancaman  dari Belanda yang datang kesana.[27]

3.      Maksud dan Tujuan Belanda Datang ke Indonesia
Sebelum kita membahas tentang maksud dan tujuan apa belanda datang ke indonesia alangkah baiknya kita mengetahui sejarah kedatangan belanda di indonesia terlebih dahulu. Perseroan Amsterdam Belanda mengirim armada dagang ke Indonesia melalui beberapa gelombang. Pertama, pada tahun 1595, Amsterdam mengirim empat armada kapal yang di pimpin oleh Cornelis de Houtman. Pada angkatan ini VOC merhasil mencapai Banten dan Selat Bali. Kedua, pada tahun 1958, Belanda mengirim kapal dari Amsterdam dan kota-kota lainnya di bawah pimpinan Van Nade, Van Heemskerck, dan Van Warwijck. Pada angkatan ini, VOC berhasil sampai ke Maluku dan membeli rempah-rempah. Ketiga, pada tahun 1599 di bawah pimpinan Van Der Hagen. Dalam angkatan ini, mereka sudah terlibat perang melawan Portugis di Ambon, tetapi gagal, dan memaksa mereka untuk mendirikan benteng tersendiri. Keempat, pada tahun 1600 di bawah pimpinan Van Neck. Pada angkatan ini, mereka berhasil membuka perdagangan dengan Banten, dan Ternate, tetapi mereka gagal merebut benteng Portugis di Tidore. [28]
“Pada bulan Maret 1602 perseroan-perseroan itu bergabung dan disahkan oleh Staten-General Republik dengan satu piagam yang memberi hak khusus kepada perseroan gabungan tersebut untuk berdagang, berlayar dan memegang kekuasaan di kawasan antara Tanjung Harapan dan Kepulauan Solomon, termasuk di Kepulauan Nusantara. perseroan ini diberi nama Vereenigde Oost Indische (VOC).”[29]
Dari isi piagam tersebut, jelas bahwa tujuan datangnya belanda ke indonesia tidak hanya untuk berdagang dan berlayar tetapi juga melakukan kegiatan politik untuk menunjang perdagangannya. Bisa jadi negara-negara Eropa lainnya seperti Portugis yang datang seabad sebelum Belanda, juga memberikan hak politik yang sama. Sebelum itu, belanda sudah berhasil mendirikan faktotai di Aceh (1601), Pathani (1601), dan Gresik (1602). [30]
VOC yang berpusat di Amsterdam itu merumuskan langkah-langkah sebagai berikut :
1.      Kompeni Belanda itu boleh membuat atau mengadakan perjanjian dengan raja-raja di Hindia Timur atas nama kerajaan Belanda.
2.      Kompeni Belanda boleh membangaun kota, benteng dan kubu-kubu pertahanan di tempat-tempat yang dipandang perlu.
3.      Kompeni belanda boleh mengadakan serdadu sendiri, gurbernur dan pegawai-pegawai sendiri, sehingga menjadi serupa pemerintahan.[31]
Lambat laun VOC semakin nampak ingin melakukan monopoli untuk mengembangkan perdagangannya. Ia ingin menguasai perdagangan Indonesia dengan sisitem monopoli yang jelas bertentangan dengan sistem tradisional yang di anut masyarakat. Karena itu, Belanda mendapatkan perlawanan dari pedagang-pedagang pribumi yang merasa kepentingannya terancam. Sikap Belanda yang kasar dan ingin memaksakan kehendak dengan kekerasa semakin menambah geramnya pelawann pribumi terhadapnya. Namun, secara politis VOC dapat menguasai sebagian besar wilayah Indonesia dalam waktu yang cepat.
     “Pada tahun 1798, VOC dibubarkan dengan saldo kerugian sebesar 134,7 juta gulden. Sebelumnya, pada 1795 izin oprasinya dicabut.”[32]
Adapun yang menyebabkan jatuhnya VOC antara lain adalah banyaknya korupsi yang merajarela di kalangan para pegawainya, selain itu juga banyak pegawainya yang kurang cakap sehingga menyebabkan pedagangan tidak stabil, banyaknya hutang, serta sistem monopoli serta sistem paksa dalam pengumpulan hasil bumi penduduk sehingga menimbulkan kemerosotan moril baik para penguasa maupun penduduk yang sangat menderita.
Pada abad ke 18, setelah VOC bubar, Indonesia secara resmi berpindah ke tangan pemerintahan Belanda.
“Pemerintahan belanda ini berlangsung sampai tahun 1942, dan hanya diinterupsai pemerintahan Inggris selama beberapa tahun pada 1811-1816.”[33]
                   Sampai tahun 1811, pemerintahan Hindia Belanda tidak mengadakan perubahan yang berarti. Bahkan pada tahun 1816, Belanda justru memanfaatkan daerah jajahan untuk memeri keuntungan sebanyak-banyaknya kepada negeri induk, guna menanggulangi masalah ekonomi belanda yang sedang mengalami kebangrutan akibat perang. Pada tahun 1830, pemerintahan Hindia Belanda menjalankan sistem tanam paksa. Setelah Terusan Suez dan industri di Belanda sedah berkembang, pemerintahan menerapkan politik liberal di Indonesia. Perusahaan dan modal swasta di buka seluas-luasnya. Meskipun dalam politik liberal itu kepentingan dan hak pribumi mendapat perhatian, tetapi pada dasarnya tidak mengalami perubahan yang berarti. Baru pada tahun 1901 belanda menerapkan politik etis, politik balas budi.[34]
4.      Strategi Politik Belanda
VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie), adalah suatu perkumpulan dagang monopoli yang didirikan pada bulan Maret 1962 M.[35]

Pada abad ke-17 dan abad ke-18, VOC melakukan politik ekspansi dan monopoli dalam sejarah kolonial di Indonesia. Sejak awal, Belanda melihat bahwa jaringan perdagangan seperti di Malaka, Johor, dan Banten sangat penting. Hubungan perdagangan antara Banten dan Malaka sebelum kedatangan VOC, dulu sangat baik. Namun setelah adanya VOC, ditambah Belanda memblokade Ambon dan Banda, serta menurunnya perdagangan di Banten secara drastis, sehingga hubungan antara Banten dengan Belanda memanas, karena adanya monopoli VOC.
Di Sulawesi, Gowa-Tallo melakukan ekspedisi ke daerah-daerah sekitar terutama dalam rangka menghadapi ekspansi Belanda yang mulai besar disana. Gowa-Tallo mengirim ekspedisi ke Buton, Solor, Sumbawa, Ende, Bima, tahun 1626, dan pada tahun berikutnya ke Limboto yang dianggap sebagai daerah kekuasaan Ternate.[36]

Selain itu, Gowa pernah terlibat pertentangan mengenai monopoli Gowa dengan VOC. Dalam pertempuran antara Gowa melawan Bone, Bone mengalami kekalahan. Dan karena hal tersebut, orang-orang Bugis bersatu untuk melawan Makassar. Peperangan ini sangat menguntungkan VOC, bahkan Ternate pun ikut turut serta melawan Makassar karena ajakan Belanda.  Akibatnya, Makassar mengalami kekalahan dan konfrontasi berakhir setelah adanya gencatan senjata tanggal 6 November 1667 dan perjanjian Bongaya tanggal 13 November 1667.
Penetrasi politik Belanda juga terjadi di Kerajaan Banjarmasin. Belanda pertama kali datang ke kerajaan ini pada awal abad ke-11 M. Mereka dengan susah payah mendapatkan izin untuk berdagan. Karena dipandang merugikan pedagang Banjar sendiri, para pedagang Belanda ini akhirnya diusir dari sana.[37]

Posisi Belanda kemudian diganti oleh pedagang asal Inggris, namun, akhirnya diusir juga. Pada dasawarsa abad ke-18, pedagang Belanda kembali datang ke Banjar, dengan tujuan untuk mengadakan perjanjian dengan mendapatkan fasilitas perdagangan di kerajaan tersebut. Kekuasaan Belanda semakin membesar, terlebih dengan bertambahnya wilayah kekuasaan Belanda, seperti wilayah kesultanan Banjarmasin, kecuali daerah Hulu Sungai, Martapura, dan Banjarmasin sudah masuk dalam kekuasaan Belanda. Belanda juga telah mengangkat gubernur di daerah tersebut, dan secara de facto, kekuasaan politik sudah berada di tangan Belanda. [38] Karena hal tersebut, melestuslah Perang Banjarmasin.
Di Sumatera, kerajaan-kerajaan Islam dengan cepat dikuasai Belanda, kecuali Aceh. Setelah Malaka jatuh ke tangan Belanda 1641 M, terbentuk aliansi-aliansi baru  antara lain Jambi, Palembang, dan Makassar. Namun aliansi-aliansi ini bubar ketika VOC ikut campur dan meminta untuk tanda tangan kontrak dengan VOC.[39]

Alasan kerajaan-kerajaan Islam selalu gagal dalam melawan Belanda adalah, karena Belanda memiliki persenjataan yang lebih modern daripada kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Selain itu, ketergantungan penduduk Indonesia terhadap pemimpinnya, menyebabkan ketika pemimpinnya terbunuh atau tertangkap, Belanda dengan mudah memperoleh kemenangannya. Politik adu domba Belanda yang berhasil diterapkan untuk memecah belah hubungan antar kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia dan saling memeangi kaumnya sendiri.
5.      Perlawanan Rakyat Terhadap Imperialisme Belanda
1.      Perang Paderi
Perang Padri terjadi sekitar tahun 1821-1837 di Minangkabau, Sumatera Barat yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol, serta bantuan ulama lain. Perang ini terjadi antara kaum Paderi melawan kaum Adat.
Pada mulanya gerakan yang dikenal dengan nama Paderi ini dilakukan melalui ceramah di surau dan masjid. Konflik terbuka dengan golongan penantang baru terjadi ketika golongan Adat mengadakan pesta menyabung ayam di Kampung Batabuh. Pesta maksiat itu diperangi oleh golongan Paderi. Sejak itulah perang antara kaum Paderi melawan kaum Adat mulai berlangsung.[40]

Kaum Paderi harus berhadapan dengan kaum Adat, terutama dari kalangan keturunan raja-raja, yang mencoba untuk menghambatnya. Dengan tujuan, agar mereka memiliki pengaruh dan kekuasaan di kalangan rakyat. Dalam memerangi kaum Paderi, kaum Adat bekerja sama dengan Belanda, yang kemudian Belanda menyetujui kerja sama tersebut, ditandai dengan penandatangan kerja sama kedua belah pihak pada tanggal 21 Februari 1921. Sejak itu, perlawanan antara kaum Paderi dengan Belanda dimulai.
Kaum Paderi memperkuat benteng yang tangguh di Bonjol, yang sekaligus berfungsi sebagai pusat pengumpulan logistik dan pembuatan senjata api. Benteng ini dipimpin oleh Tuanku Imam Muhammad Syahab yang kemudian bergelar Tuanku Imam Bonjol.[41]

Pada awal peperangan, Belanda mengalami kesulitan dan kekalahan, sehingga Belanda mengadakan perdamaian dengan kaum Paderi pada 22 Januari 1824. Akan tetapi, setelah itu, Belanda mengkhianatinya. Sehingga, meletuslah perang yang kedua, dan Belanda kembali menderita kesulitan. Oleh karena itu, Belanda mengadakan perjanjian damai pada 15 September 1825.
Perjanjian ini dimaksudkan oleh Belanda untuk mengonsentrasikan kekuatan di Jawa menghadapi Pangeran Diponegoro. Setelah perang Diponegoro selesai, pengkhianatan kembali dilakukan oleh Belanda.[42]

Akan tetapi, Belanda mengalami kekalahan lagi, dan kemudian membuat pengumuman damai yang dikenal dengan Plakat Panjang, 23 Oktober 1833. Kaum Paderi masih terus melakukan perlawanan, hingga mereka mengalami kekalahan dari Belanda, yang berhasil menduduki wilayah Bonjol pada 16 Agustus 1837.
Tuanku Imam Bonjol kemudian ditangkap oleh Belanda pada 28 Oktober 1837. Ia diasingkan ke Cianjur kemudian ke Ambon dan selanjutnya ke Manado, tempat dia meninggal. [43] Dampak dari perang ini adalah, posisi agama semakin menguat, dan Islam berasimilasi dengan adat Minangkabau, sebagai pola perilaku ideal, dan merupakan standar perilaku yang baik .

2.      Perang Diponegoro
            Perang Diponegoro, atau bisa disebut juga Perang Jawa, yang berlangsung antara 1825-1830 yang berlangsung di hampir seluruh pulau Jawa, dengan tujuan untuk memerangi kolonialisme Belanda. Latar belakang dari peperangan ini adalah, bahwa pemerintah Hindia Belanda ingin membuat jalan yang melintasi tanah milik Pangeran Diponegoro, yang juga harus membongkar makam keramat. Hal ini tidak disetujui Pangeran Diponegoro, dan ia menuntut pembangunan ini untuk dialihkan. Pihak Belanda kemudian berencana untuk menangkap Pangeran Diponegoro, beserta Pangeran Mangkubumi, namun digagalkan oleh rakyat Tegalrejo.
Pangeran Diponegoro menggariskan maksud dan tujuan perlawanan terhadap Belanda, para pejabat, dan agen Belanda; Pertama, untuk mencapai cita-cita luhur mendirikan masyarakat yang bersendikan Agama Islam; kedua, mengembalikan keluhuran adat Jawa, yang bersih dari pengaruh Barat.[44]

            Pangeran Diponegoro menggunakan taktik gerilya, dan peperangan segera menyebar luas ke seluruh Jawa. Pada tahun 1826, banyak korban dari pihak Belanda berguguran. Sehingga pada tahun berikutnya, Belanda memperkuat pertahanan dengan cara membangun benteng stelsel, dan mengerahkan sekitar tiga ribu orang dari negaranya. Akibatnya, pihak Pangeran Diponegoro mulai terdesak.
Pada Februari 1830, perundingan akan berlangsung, namun Pangeran Diponegoro tidak menyanggupi, karena pada waktu itu sedang bulan puasa. Pada tanggal 28 Maret 1830, saat bertepatan dengan hari raya Idul Fitri, Pangeran Diponegoro diundang ke rumah residen untuk melanjutkan perundingan. Dalam perundingan tersebut, Pangeran Diponegoro, menuntut untuk dapat mendirikan negara Islam yang merdeka. Namun, ia ditawan karena tuntutannya tersebut, dan dibuang ke Manado pada 3 Mei 1830, dan dipindahkan ke Ujung Pandang, Makassar pada 1834 dan meninggal pada 8 Januari 1855 di sana. [45]

3.      Perang Aceh
            Perang Aceh terjadi antara tahun 1873-1904, dimana rakyat Aceh yang didukung oleh para uleebalang (hulubalang) dan ulama bersatu memperjuangkan kemerdekaan dan melawan kolonialisme Belanda. Latar belakang terjadinya perang Aceh ini adalah, bahwa Belanda bermaksud untuk mencari tanah jajahan baru, mengincar dan menguasai Aceh, dimana setelah Terusan Suez dibuka, Belanda dapat dengan mudah mencari tanah jajahan baru.
Pada tanggal 30 Maret 1857 ditandatangani kontrak antara Aceh dan pemerintah Hindia Belanda yang berisi kebebasan perdagangan. Sultan Aceh menentang isi traktat itu karena bertentangan dengan hegemoni Aceh. Dalam pertempuran antara Aceh dengan Belanda setelah itu, Deli, Serdang, dan Asahan jatuh ke tangan Belanda.[46]

            Pada tanggal 2 November 1871, Inggris dan Belanda sepakat menandatangani Traktat Sumatera. Sehingga kemudian, Belanda memaklumkan perang terhadap Aceh pada tanggal 26 Maret 1873. Mengetahui hal tersebut, Aceh kemudian mempersiapkan diri menghadapi peperangan, dan mencoba membangkitkan kekhawatiran pemerintah kolonial. Pada tanggal 22 Maret 1873, datang utusan Belanda menghadap Sultan Aceh, dengan membawa surat yang isinya agar Aceh mengakui kedaulatan pemerintahan kolonial Belanda atas Aceh. Tentu saja Aceh menolak. Karena hal tersebut, pada 4 hari kemudian, pemerintah kolonial memerangi Aceh. Pasukan Belanda  yang dipimpin Jendral J. H. R. Kohler pada tahun 1873 mulai menggempur Aceh, terutama melakukan serangan terhadap masjid. Rakyat Aceh berusaha untuk mempertahankan masjid tersebut, namun masjid itu akhirnya terbakar karena peluru api.
Tanggal 14 April 1873, masjid berhasil diduduki, Jenderal Kohler tewas tertembak saat sedang memeriksa keadaan masjid. Setelah jatuhnya masjid raya, pusat pertahanan laskar Aceh beralih ke istana Sultan Aceh di Kutaraja. Seiring berjalannya waktu, pertahanan Aceh semakin kuat, dan berhasil dipukul oleh laskar Aceh.[47]

Menjelang akhir tahun 1873, sekitar 13.000 pasukan Belanda yang dipimpin oleh Letjen J. Van Swieten, bermaksud untuk merebut istana Kutaraja. Istana ini akhirnya berhasil diduduki dan menjadi pusat kedudukan Belanda untuk melancarkan serangan. Semua rakyat Aceh bersatu dan saling bahu membahu menyerang Belanda. Para tokoh yang berperan dalam perjuangan itu adalah Panglima Polim, Teuku Cikditiro, Teuku Umar, Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Teuku Imam Lengbata, dan Teuku Ibrahim. Sepeninggal Sultan pada 1874, Belanda menyusun strategi dan menjalanan sistem pasifikasi serta mendirikan benteng-benteng pos untuk mengawasi daerah sekitarnya. Akan tetapi, pos tersebut terus menerus mendapat serangan dari tentara Aceh. Tahun 1877, Belanda melakukan penyerbuan lewat jalur darat, maupun laut, serta menggunakan siasat benteng stelsel, sehingga beberapa daerah berhasil dikuasai. Aceh terus menggempur pertahanan Belanda dengan taktik perang gerilya. Akibat serangan tersebut, kondisi Belanda sangat menderita.
Setelah sistem pasifikasi gagal, Belanda menerapkan sistem konsentrasi, kota raja sebagai pusatnya, akan tetapi, sistem ini justru memberi peluang memberi peluang kepada pejuang Aceh untuk menggagalkan perang gerilya.[48]

Sejak Mei 1898, pasukan Belanda semakin menggencarkan serangan, hingga membuat rakyat Aceh kewalahan. Satu demi satu Uleebalang menyerah, dan beberapa daerah jatuh ke tangan Belanda. Sekitar 2 tahun kemudian, Belanda berhasil mengejar rombongan Sultan Aceh dan kemudian ditawan, serta menangkap 2 pejuang wanita, yaitu Cut Nyak Dhien dan Cut Meutia.

4.      Perang Banjar di Kalimantan
            Perang Banjar terjadi antara tahun 1854-1864 M. Latar belakang perang ini adalah, ketidaksenangan rakyat Banjar terhadap pemerintah kolonial karena tindakan campur tangan pemerintah kolonial dalam urusan intern kerajaan. Ini disebabkan karena adanya sultan baru, yaitu Pangeran Tamjidillah, yang diakui pemerintah, namun tidak disenangi masyarakat, sehingga terjadilah perlawanan Banjar. Tahun 1859, perlawanan ini dipimpin oleh Pangeran Antasari dibantu dengan Kiai Demang Leman, Haji Nasrun, Haji Buyasin, dan Kiai Langlang. Sultan Tamjidillah juga akhirnya dicopot dari kedudukannya, karena menimbulkan kekecewaan di kalangan masyarakat dan para pembesar lainnya, yang berujung kericuhan di dalam wilayah Banjarmasin. Situasi ini dimanfaatkan oleh Belanda untuk meneliti persoalan tersebut melalui Kolonel Andresen, dan mengambil kesimpulan bahwa sumber kericuhan tersebut ialah Sultan Tamjidillah. Sehingga Sultan Tamjidillah turun tahta dan Belanda mengambil alih kekuasaan. Sejak itulah, rakyat Banjar kemudian melakukan perlawanan dengan Belanda. Perlawanan rakyat Banjar yang dipimpin oleh Antasari tersebut, telah mengerahkan 3600 orang untuk menyerbu pos Belanda.
Pada tanggal 14 Maret 1862, Pangeran Antasari memproklamasikan suatu pemerintahan Kerajaan Banjarmasin yang bebas dan merdeka, penggantti Kerajaan Banjarmasin yang dirampas.[49]

Pangeran Antasari diangkat menjadi raja baru, dan Teweh ditetapkan sebagai ibukota kerajaan.
Namun 9 bulan setelah proklamasi, Pangeran Antasari wafat di Temeh tanggal 11 Oktober 1862 M, karena sakit. Dan digantikan anaknya Pangeran Muhammad. Dan perlawanan terus berlangsung sampai tahun 1905 M, ketika raja ini syahid dalam pertempuran.[50]

5.      Pemberontakan Rakyat di Cilegon Banten
            Pemberontakan rakyat di Cilegon terjadi pada tanggal 9 Juli 1888, tepatnya pukul 16.00 yang dipimpin oleh K.H. Wasit bersama H. Ismail, dan ulama-ulama yang lain. Pemberontakan ini terjadi karena beberapa hal, seperti bencana kelaparan, matinya hewan ternak akibat ditembaki Belanda, dan reaksi kebencian terhadap pemerintah Belanda yang angkuh, serta banyak hal yang lainnya. Semangat rakyat Banten terus berkobar untuk melawan penjajah Belanda. Para ulama pun ikut andil dan memiliki peranan yang besar dalam peperangan ini.
Donald Eugene Smith menyatakan, The Ulama scholars of Islamic Law played a major role in Indonesia struggles against imperialism. (Ulama, para cendekiawan muslim memainkan peran yang besar di Indonesia, dalam perjuangan melawan imperialis.)[51]

6.      Perang Makassar
            Perang Makassar, terjadi pada bulan April 1655, yang dipimpin oleh Sultan Hasanuddin, yang merupakan Raja Gowa ke-12. Perang ini terjadi karena sikap Belanda yang ingin menguasai rempah-rempah di Maluku, dan ketidaksenangan Belanda terhadap rakyat Makassar yang berjualan rempah-rempah di Maluku.
Pada bulan Oktober 1655, utusan VOC yaitu Willem Van Der Beck menghadap Sultan Hasanuddin untuk merundingkan “perdamaian”. Namun, Sultan Hasanuddin tidak menerima usulan tersebut, karena membatasi ruang gerak rakyat Makassar untuk berdagang di Maluku.[52]

            Pada tahun 1660, di Pantai Somba Opu, muncul armada perang VOC berjumlah 31 kapal dengan 2600 orang pasukan. Pada tanggal 19 Agustus 1660, Belanda mengajukan usul perdamaian, namun tidak diterima Sultan Hasanuddin, dan baru diterima pada Desember 1660 karena keterpaksaan. Tahun 1666, armada Gowa menyerang Buton dengan 700 kapal hingga dapat dikuasai kembali dari Belanda. Pada 1 Januari 1667, Belanda ingin merebut kembali Buton dari tangan Gowa, dengan bergantung pada pasukan Arung Palaka. Kemudian, Belanda menyerbu Bantaeng Barombong, yang kemudian 7000 orang pasukan Gowa mempertahankannya dari serbuan Belanda pada 7-10 Juli 1667.
Bantaeng Barombong jatuh pada 23 Oktober 1667. Pada 18 November 1667 diadakan perjanjian Bungaya, yang terdiri dari 29 pasal. Sultan Hasanuddin mula-mula tidak menyetujui perjanjian ini, tetapi karena situasi terpaksa menerima dengan berat hati.[53]

            Arung Palaka kemudian diangkat menjadi raja Bone oleh Belanda, sebagai balas jasanya. Pada tanggal 27 Juni, Sultan Hasanuddin terpaksa memperkuat Perjanjian Bungaya dengan membubuhkan cap kerajaan, setelah anggota Majelis Pemerintahan Gowa menandatanganinya.

7.      Perang Jambi
            Perang Jambi terjadi antara tahun 1858 hingga 1907, yang terjadi antara pihak Belanda dengan kesultanan Jambi. Pada awalnya, sultan Jambi, Sultan Abdul Kahar, mengizinkan Belanda untuk membuka perwakilan dagangannya di Jambi. Sultan Sri Ingologo, pengganti Sultan Abdul Kahar, tidak suka dengan keputusan Sultan Abdul Kahar tersebut, sehingga timbullah permusuhan antara Kesultanan Jambi dengan Belanda. Namun, akhirnya Sultan Sri Ingologo ditangkap oleh Belanda, dan diasingkan ke Banda, Maluku. Karena kejadian tersebut, Kesultanan Jambi menutup perwakilan perdagangan Belanda di Jambi.

Ketika masa pemerintahan Sultan Thahaningrat yang bergelar Sultan Thaha Saifuddin berkuasa, ia meninjau kembali perjanjian-perjanjian yang pernah dibuat para Sultan terdahulu dengan Belanda, yang ternyata perjanjian-perjanjian tersebut banyak merugikan pihak kerajaan.[54]

            Permusuhan antara Sultan Thaha dengan Belanda pun terjadi, dimana Belanda mengirimkan pasukan ke Muara Kumpeh di bawah pimpinan Mayor Van Langen dengan kekuatan 30 kapal perang. Sultan Thaha juga tak mau kalah. Dia juga menyiapkan kekuatan 30 kapal perang sebagai tandingan di Muara Tembesi. Dukungan kepada Sultan Thaha, diperoleh dari Turki. Ia juga mendapat bantuan senjata dari Inggris dan Amerika, dari penukaran rempah-rempah dan emas. Kedudukan Belanda di Surolangun Rawas pada tahun 1890 diserang oleh pasukan Haji Kaemang Rantau. Dan pada pertempuran tahun 1902, tidak kurang dari 500 pasukan Belanda tewas. Sultan Thaha Saifuddin sendiri tidak pernah ditangkap oleh Belanda, sampai ia meninggal di Muara Tabo pada 26 April 1904 karena usia tua. Atas jasa-jasanya tersebut, Sultan Thaha Saifuddin diakui sebagai pahlawan nasional Republik Indonesia.

6.      Peradaban Islam di Indonesia
1.      Peradaban Islam Sebelum Kemerdekaan
a.       Birokrasi Keagamaan
Islam di Indonesia bermula dari beberapa pelabuhan penting di Sumatera, Sunda Kelapa (Jakarta), Jawa, Madura, Ambon, dan sebagainya. Dari sanalah akhirnya berdiri kerajaan-kerajaan Islam seperti Samudera Pasai, Aceh, Demak, Banten, Cirebon, Ternate, Tidore, dan sebagainya. Ibu kota kerajaan pada waktu itu menjadi pusat politik dan perdagangan, serta pusat perkumpulan para ulama dan mubaligh Islam.
b.      Peran Para Ulama dan Karya-karyanya
Penyebaran agama Islam tak lepas dari peran para ulama, disamping mereka juga berpartisipasi dalam dunia pendidikan. Ada dua cara yang mereka lakukan.
Pertama, membentuk kader-kader ulama yang akan bertugas sebagai mubalig ke daerah-daerah yang lebih luas. Cara ini dilakukan di dalam lembaga-lembaga pendidikan Islam yang dikenal dengan pesantren atau langgar di Jawa, dayah di Aceh, dan surau di Minangkabau. Cara kedua yang dilakukan ulama adalah melalai karya-karya yang tersebar dan dibaca di berbagai tempat yang jauh.[55]

Kondisi pendidikan pada masa itu juga berkembang terus menerus sesudah tahun 1990. Sekolah tersebut juga memiliki corak yang beragam, seperti Taman Siswa, Kesatrian, Institut, yang bercorak politik. Dan sekolah Sarekat Islam, sekolah Muhammadiyah, Sumatera Thawalib, Sekolah Nahdlatul Ulama, yang bercorak tuntutan agama (Islam). Selain itu, semakin berkembang pula pesantren-pesantren, madrasah (sekolah Islam), yang tentunya lebih lengkap dan terstruktur. Selain pendidikan, cara yang lain adalah menyebarkan agama Islam melalui karya-karya. Tokoh-tokoh ulama dan tokoh sufi terkemuka di Indonesia, seperti Hamzah Fansuri, dengan karyanya Asarul Arifin fi Bayan ila Suluk wa At Tauhid, kemudian berbagai macam syair, seperti Syair Perahu, Syair Burung Pingai, Syair Jawi, dan sebagainya. Selain itu, ada juga ulama Aceh yang lain, seperti Nurudin Ar-Raniri yang menulis buku Ash Shirath Al-Mustaqim, yang berisi tentang hukum, Asrar Al-Insani fi Ma’rifati Ar-Ruh wa Ar-Rahman yang merupakan karya Ilmu Kalam, dan sebagainya. Pemikiran-pemikiran tasawuf juga berkembang pada saar itu.
Di Sulawesi, pemikiran tasawuf yang sama juga berkembang, terutama melalui Syaikh Yusuf Al-Makassari (1626-1699M) yang lama belajar di Timur Tengah. Karya-karya Syaikh Yusuf Al-Makassari yang sebagian dalam bidang tasawuf itu diperkirakan berjumlah 20 buah dan sekarang masih dalam bentuk naskah yang belum diterbitkan.[56]

Pemikiran tasawuf kemudian bergeser ke pemikiran fiqh sejak abad ke-19 M. Para ulama yang produktif menulis diantaranya adalah Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari, penulis kitab Sabilul Muhtadin, Kiai Haji Ahmad Ritai dari Kalisalak Batang yang menulis buku Husnul Mathalib, Asnal Maqashid, dan sebagainya.
c.       Politik
Sekitar abad XIV, umat Islam di nusantara berhasil membentuk suara pemerintahan yang bercorak Islam. Namun, dalam hal-hal tertentu belum sepenuhnya bercorak Islam, melainkan adanya perpaduan antara corak Indonesia sebagai pengaruh dari corak pemerintahan agama lama dengan corak yang dibawa Islam. [57]

Seiring berjalannya waktu, banyak bermunculan kerajaan-kerajaan Islam, yang lebih menonjolkan corak keislamannya. Lambat laun, peran umat Islam dalam politik pemerintahan semakin berkembang, baik secara formal menjabat sebagai pegawai, maupun informal, seperti dalam organisasi Serikat Dagang Islam (SDI), Partai Arab Indonesia, Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI), dan sebagainya.

d.      Seni dan Arsitektur
Dalam seni arsitektur, terutama dalam bangunan sarana peribadatan seperti Masjid, Mushalla, bahkan rumah-rumah di Indonesia banyak yang berseni Islam seperti terdapatnya tulisan Arab (Kaligrafi Islam) yang terpajang pada bangunan-bangunan, rumah-rumah penduduk, dan sebagainya.[58]

Hasil seni bangunan tersebut seperti terdapat pada Masjid Kuno Demak, Masjid Agung Ciptarasa Kasepuhan Cirebon, Masjid Agung Banten, Masjid Baiturrahman Aceh, Masjid Ampel Surabaya, dan masjid di berbagai daerah lain. Beberapa masjid juga ada yang dipengaruhi oleh corak Hindu dan Buddha. [59] Ciri khas bentuk arsitektur masjid tersebut, diantaranya adalah atap yang bertumpang tindih, masjid dikelilingi parit, mihrab dengan lengkung kalamakara, mastaka, maupun memolo.
Beberapa bangunan arsitektur Islam di Indonesia, memiliki ciri khas tersendiri dengan mengadaptasi budaya sebelumnya. Hal tersebut dapat dilihat dalam arsitek Masjid Kudus di mana menaranya masih mencitrakan bangunan model budaya Jawa Hindu.[60]

2.      Peradaban Islam Setelah Kemerdekaan
a.       Departemen Agama
Indonesia mendasarkan pemerintahannya pada asas Pancasila dan UUD 1945, dimana jika dikaitkan dengan ajaran syariat Islam akan ditemukan persamaan dalam Al-Qur’an, sebagai sumber hukum utama Indonesia.
Dalam struktur pemerintahan Republik Indonesia dibentuk Departemen Agama. Yang pertama kalinya didirikan pada masa kabinet Syahrir sampai sekarang menteri agamanya masih dipegang oleh seorang muslim.[61]

Kemudian selanjutnya, berkembang Kementerian Agama yang tidak hanya menaungi agama Islam, melainkan semua agama resmi di Indonesia, dengan beberapa struktur , seksi-seksi, dan Direktorat Jenderal (Dirjen).

b.      Lembaga Pendidikan Islam
Lembaga pendidikan Islam yang pertama kali berkembang adalah pesantren. Dimana dulu, walisongo, menyebarkan agama Islam melalui lembaga pendidikan pesantren. Selain itu, kaum muslimin juga memikirkan untuk mendirikan sebuah perguruan tinggi Islam.
Universitas Islam Indonesia (UII) adalah perguruan tinggi Islam pertama yang memiliki fakultas-fakultas nonagama. [62]

Selain itu, terdapat sekolah khusus untuk menjadi tenaga pengajar yang merupakan tugas dari Departemen Agama. Beberapa sekolah khusus untuk mencetak tenaga pengajar agama maupun umum, yaitu:
a.       Pendidikan Guru Agama (PGA)
b.      Sekolah Guru dan Hakim Agama (SGHA)
c.       Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN)[63]

Pada tanggal 12 Agustus 1950, Fakultas Agama pada Universitas Islam Indonesia tersebut dipisah dan dijadikan sebagai Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) dengan dua jurusan, Dakwah dan Qadla[64] , dan pada tanggal 26 September 1951 secara resmi dibuka perguruan tinggi baru dengan nama Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) di bawah pengawasan Kementerian Agama.[65]

Selanjutnya, pada tahun 1960, didirikan IAIN (Institut Agama Islam Negeri) dibawah Kementerian Agama. Dan sampai sekarang, ada 3 tingkatan PTAIN milik Kementerian Agama, yaitu Universitas Islam Negeri (UIN), Institut Agama Islam Negeri (IAIN), dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) yang tersebar di beberapa kota di seluruh Indonesia.
7.      ORGANISASI-ORGANISASI ISLAM DI INDONESIA
1.      Jami’at khair
“Jami’at khair didirikan pada tanggal 17 juli 1905 di Jakarta. Keanggotan organisasi ini mayoritas orang Arab dengan tidak menutup kemungkinan kepada orang-orang Islam Indonesia lainnya untuk bergabung ke organisasi ini, tanpa ada diskriminasi di dalamnya.”[66]
Umumnya orang-orang yang bergabung dalam organisasi ini terdiri dari orang-orang yang berada, sehingga memungkinkan penggunaan waktu mereka untuk mengembangkan organisasi tanpa mengorbankan usaha ekonomi mereka. Usaha dari organisasi ini dipusatkan pada pendidikan, dakwah dan penerbitan surat kabar.
2.      Syarikat Islam(SI)
“Syarikat Islam (SI), mula-mula awalnya adalah serikat dagang islam (SDI) yang didirikan oleh KH. Samanhudi pada tahun 1905 M di Solo. Ada yang mengatakan bahwa SDI mula-mula didirikan pada tahun 1911 M. kemudian pada tahun 1912 M, SDI berubah menjadi SI yang di prakarsai oleh HOS. Cokroaminoto, Abdul Muis, H. Agus Salim dan lain-lain.”[67]
Awalnya SI merupakan organisasi yang bergerak di bidang keagamaan, tetapi kemudian  menjadi gerakan politik.Alasan R.M. Tirtoadisuryo mendirikan perkumplan tersebut adalah untuk membenahi perdagangan dan melindungi kegiatan ekonimi islam yang pada saat itu masih tertinggal jauh dengan para pengusaha cina. Sebagai contoh adalah batik, batik adalah ciri khas dari indonesia , indonsialah yang seharusnya mempunyai wewenang untuk menjadi penguasanya. Tapi pada kenyataanya pada saat itu justru penguasaha cinalah yang menguasai batik , dari mulai bahan bakunya sampai penjualannya. Oleh karena itu R.M. Tirtoadisuryo mendirikan perkumpukan tersebut .
3.      Muhammadiyah
Salah sebuah organisasi sosial islam yang terpenting di Indonesia sebelum perang dunia II dan mungkon juga sampai saat sekarang ini adalah Muhammadiyah. Organaisasi ini didirikan di Yogyakarta pada tanggal 18 desember 1912 bertepatan dalam tanggsl 18 Dzulhijjah 1330 H, oleh KH. Ahmad Dahlan.[68]
Prinsip yang digunakan oleh muhammadiyah adalah amar ma’ruf nahimungkar yaitu mengajak perbuatan yang baik dan meninggalkan yang dilarang oleh allah swt. Didalam bidang pendidikan  sistem pendidikan yang dibangun , mereka menciptakan  cara sendiri yaitu dengan menggabungkan cara tradisional dengan cra modern.model sekolah barat di tambah dengan pelajaran agama yang dilakukan di dalam kelas. Kemudian didalam bidang kemasyarakatan organsasi muhammadiyah ini mendirikan usaha kepedulian sosial seperti rumah sakit, poliklinik dan rumah yatim piatu.
Selanjutnya muhammdiyah juga mendirikan organisasi wanita yang bertujuan sebagai pembaharu kaum perempuan terutama di bidang keagamaan yang diberi nama Aisyiyah. Namun ketika aisyiyah berdiri perempuan tidak mendapatkan akses pendidikan dan peran dalam kemasyarakatan karena  dianggap tidak perlu. Mengapa demikian,karena  Aisyiyah memiliki pendapat bahwa perempuan dan laki-laki sama-sama mempunyai kewajiban untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.
4.      NAHDLATUL ULAMA’
Nahdlatul Ulama(NU) artimya kebangkitan ulama, adalah organisasi massa islam yang didirikan oleh  para ulama pesantren di bawah pimpinan KH. Hasyim Asy’ari, di Surabaya pada tanggal 31 januari 1926.[69]
Organisasi nahdlatul ulama ini sangat  berpegang teguh dengan ahlusunnah waljama’ah. NU ini termasuk organisasi yang kreatif dan giat  sebagai contoh adalah ketika mereka mnyampaikan khutbahnya yang masih berahasa arab yang tidak semua orang paham bahasa tersebut maka organisasi NU itu mengubah cara berkhutbahnya dengan bahasa daerah yang dapat dipahami oleh jama’ahnya. Perubahan cara berfikirpun sudah mulai terlihat  yang kemudian diikuti dengan perbaikan organisasi secara lebih modern, lembaga-lembaga sosial mulai didirikan, seperti rumah sakit dan sekolah-sekolah. Kemudian kalu dalam konteks indonesia yang tidak kalah pentingnya adalah  bangkitnya nasionalisme modern yaitu nasionalisme non kesukuan.oraganisasi ini berusaaha mengembalikan dan mengikuti salah satu mazhab yang empat (maliki, hanafi, syafi’i dan hambali) dalam ajaran islam. Kemudian dalam perkembangan selanjutnya organisasi islam ini melakukan sebuah usaha untuk mempersatukan diri yaitu dengan membentuk majelis islam A’la indonesia (MIAI) sebagai gabungan organisasi-organisasi islam yang pembentukannya tidak kurang dari sepuluh kali kongkres sejak 1921 sampai tahun 1938. Tetapi setelah berdirinya MIAI  tersebut pada saat penjajahan jepang  MIAI dan organisasi-organisasi lainnya dibubarkan oleh jepang dan diganti dengan  Masyumi.
5.      Jam’iyatul Washilah
Jam’iyatul Washilah adalah suatu organisasi islam yang diresmikan pendiriannya pada tanggal 30 November 1930 M didirikan di Medan yang dipelopori oleh para ulama terkemuka di Medan. Para ulama yang ikut mendirikan jam’iyatul washilah yaitu diantaranya: Ismail Banda, Abdurrahman Syihab, M. Arsyad Thahir Lubis, Adnan Nur, H.Syamsudin, H.Yusuf Ahmad Lubis,H.A.Malik, dan A.Aziz Efendi.[70]
Jam’iyatul washilah sekarang sering dikenal dengan Alwashliyah. Karena organisasi ini khusus aktif membela kemaslahatan umat islam dan indonesia pada umumnya. Kemudian sejarah dari terbentuknya organisasi ini, atau mengapa organisas ini terbentuk  itu karena pada saat itu umat islam sedang mengalami perpecahan yang luar biasa, maka para cendekiawan muslim mencari jalan tengah untuk mempersatukan kembali ummat islam,  oleh karena itu terbentuklah sebuah organisasi jam’iyatul washilah.
6.      Al-Irsyad Al- Islamiyah
Al-Irsyad adalah organisasi Islam yang didirikan pada tahun 1913 oleh orang-prang keturunan Arab, dibawah pimpinan syaikh Ahmad Syurkati, seorang ulama asal sundan.[71]
Dengan didirikannya perkumpulan tersebut ia menginginkan  agar pendidikan islam diajarkan sejak dini, di kembangkankan dan dipelajrai secara terus menerus.
7.      Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI)
PERTI didirikan pada 20 mei1930 di Bukittinggi Sumatra Baratoleh sejumlah para ulamaterkemuka di Minangkabau, di bawah pimpinan syaikh Sulaiman Ar-Rasuli.[72]
Organisasi ini muncul karena mereka (para ulama) di sumatra barat tidak setuju dengan thawalib, jadi yang mendirikan organisasi ini adalah para tokoh ulama, lain halnya dengan organisasi thawalib yaitu yang mendirikan para pemuda-pemudanya. Pada intinya para ulama ini kurang sependapat dengan organisasi yang didirikan oleh para pemudanya. Kegiatan organisasi ini terutama pada bidang pendidikan yaitu dengan mendirikan madrasah dan juga majalh-majalah sebagai sarana untuk menyalurkan ide-ide. Adapun majalah yang terbitkan ada suara tarbiyatul islamiyah,al mizan dan perti bulanan.
8.      Persatuan Umat Islam (PUI)
PUI didirikan oleh KH. Abdul Halim, seorang ulama pengasuh pondok pesantren di Majalengka Jawa Barat pada tahun1911 M. dalam perkembangan berikutnya PUI memiliki banyak sekolah dan pondok pesantren yang menyebar di wilayah Jawa Barat.[73]
PUI disebut juga sebagai anak zaman dalam mematri persatuan dan kesatuan umat islam. Dikatakan sebagai anak zaman karena pada waktu lahirnya, yaitu pada tanggal 5 april 1952 bertepatan dengan 9 rajab 1371 h di bogor situasi dan kondisi keorganisasian sosial masyarakat pada saart itu masih bepecah belah. Tetapi PUI lahir justru sebagai hasil fusi antara dua organisasi besar, yaitu antara PUI yang berpusat di majalengka dengan PUII yang berpusat di sukabumi.
9.      Mathlaul Anwar (MA)
MA adalah organisasi Islam yang didirikan di Menes Banten, pada 9 Agustus 1916. Didirikan oleh para tokoh Islam di daerah Banten yang dimotori oleh KH.Mas Abdrrahman. Organisasi ini bersifat keagamaan, bertujuan mewujudkan keluarga dan masyarakat Indonesia yang takwa kepada Allah SWT, sehat jasmani dan rohani, berilmu pengetahuan,cakap dan terampil serta berkepribadian Indonesia.[74]
Mathlaul anwar artinya adalah tempat lahirnya cahaya(dalam bahasa arab). Pada waktu itu ditengah galaunya kemungkaran di dalam masyarakat yang di landa kemiskinan, kebodohan dan kejumudan yang diselimuti pula oleh kabut kegelapan dan kebingungan munculah seberkas sinr harapan yang diharapkan akan membawa perubahan di hari kemudian
10.  Persatuan Islam (PERSIS)
PERSIS adalah organisasi massa Islam yang didirikan oleh para ulama yang beraliran pembaharu di Bandung pada 12 September 1923. Para ulama pendiri persis yaitu KH.Zamzam, dan A.Hasan.[75]
Tujuan didirikannya persis adalah untuk memberikan pemahaman islam yangsesuai dengan aslinya yang di bawa oleh Rasulullah saw dan memberikan pandangan berbeda dari pehaman islam tradisional yang dianggap sudah tidak orisinil karena bercampur dengan budaya lokal, sikap tidak kritis dan tidak mau menggali islam lebih dalam dengan membuka kitab-kitab hadits yang shahih.
11.  Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (Dewan Dakwah)
Dewan Dakwah Islam Indonesia didirikan oleh M.Natsir dan beberapa tokoh Islam berhaluan pembaharudi Jakarta. Dewan Dakwah  Islamiyah Indonesia merupakan organisasi dakwah yang  banyak berjasa dalam bidang dakwah di perkotaan, baik melalui dakwah-dakwah pengajian, buku ataupun majalah.[76]
12.  Majlis Dakwah Islamiyah (MDI)
MDI didirikan oleh para tokoh Islam yang tergabung dalam golongan karya pada masa pemerintahan orde baru di bawah pemerintahan soeharto.[77]
Adapun peran MDI ini  adalah untuk menghilangkan sisa-sisa pemikiran yang mempertentangkan antara agama dengan pancasila , serta memperlawankan  antara kepentingan umat islam dengan  kepentingan nasional . hal tersebut jelas tidak menguntuntungkan bagi bangsa kita dan umat islam sendiri.
13.  Majlis Ulama Indonesia (MUI)
MUI didirikan pada 26 juli 1975. Lembaga ini bertugas memberikan fatwa dan nasihat seputar masalah keagamaan dan kemasyarakatan sebagai bahan pertimbangan pemerintahan dalam menjalankan pembangunan. Pengurusnya terdiri dari beberapa tokoh Islam dari berbagai organisasi yang ada.[78]
MUI berdiri bertepatan ketika bangsa indpnesia tengah berada pada fase kebangkitan kembali, setelah 30 tahun merdeka, dimana energi bangsa telah banyak terserap dalam perjuangan politik kelompok dan kurang peduli dengan masalah kesejahteraan rohani umat. MUI juga berperan sebagai wadah musyawarah para ulama, para cendekiawan muslim berusaha memberikan bimbingan dan tuntunan kepada umat islam indonesia dalam mewujudkan kehidupan beragama dan bermasyarakat yang di ridhai oleh Allah.
14.  Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI)
ICMI adalah organisasi para cendekiawan muslim di Indonesia yang didirikan oleh para cendekiawan atas dukungan birokrasi, pada tahun 1990. Penggagasnya antara lain: Prof .DR.Ing.BJ.Habibi yang waktu itu menjabat sebagai Mentri Riset dan Teknologi pada pemerintahan era orde baru.[79]
Awal mula munculnya ICMI berasal dari diskusi kecil yang di lakukan oleh sekelompok mahasiswa pada bulan februari 1990 di masjid kampus universitas brawijaya malang. Para mahasiswa itu merasa prihatin kondisi umat islam pada saat itu, masing –masing kelompok sibuk dengan kelompoknya sendiri, serta bertujuan secara parsial sesuai denagn aliran dan profesi masing-masing. Dari forum itulah muncul sebuah gagasan untuk mengadakan simposium dengan tema sumbangan cendekiawan muslim menuju era tinggal landas.


[1].kementrian pendidikan dan kebudayaan, sejarah indonesia, (Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014), hlm. 9.
[2]. Ibid., hlm 7
[3].Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah, 2010), hlm 372.
[4]. Ibid., hlm 372
[5]. Ibid., hlm 372
[6]. Ibid., hlm 373
[7]. Iwan setiawan, wawasan sosial 1 IPS untuk kelas VII SMP/MTs, (Jakarta : pusat pembukuan, departemen pendidikan nasional, 2008), hlm. 211
[8]. Op. Cit., Kementrian pendidikan dan kebudayaan, Hlm 14
[9]. Op. Cit., Iwan setiawan, hlm 211
[10]. Op. Cit.,kementerian pendidikan dan kebudayaan, hlm 14.
[11]. Op. Cit., Iwan setiawan, hlm 211.
                [12]. Op. Cit., Kementrian pendidikan dan kebudayaan, hlm 16.
[13]. Op. Cit., Iwan setiawan, hlm 212.

[14]. Op. Cit., Kementrian pendidikan dan Kebudayaan, hlm 11-12.
[15]. Op. Cit., Iwan setiawan, hlm. 212.
[16]. Op. Cit., Samsul Munir Amin, hlm 374.
[17]. Ibid., hlm 374.
[18]. Yahya Harun, Kerajaan Islam Nusantara abad XVI dan XVII, (Yogjakarta: Kurnia Alam Sejahtera, 1994), hlm. 11
[19]. Op. Cit., Samsul Munir Amin, hlm 375.
[20]. Op. Cit., Yahya Harun, hlm 15
[21]. Ibid., hlm 15-16.
[22]. Op. Cit., Samsul Munir Amin, hlm 375.
[23]. Ibid., hlm 376.
[24]. Ibid.
[25]. Ibid.
[26]. Ibid., hlm 376-377.
[27]. Ibid.
[28]. Yatim Badri, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2003), hlm, 234.
[29]. Ibid. 
[30]. Ibid., hlm 235.
[31]. Op.Cit., Samsul Munir Amin, hlm 378.
[32]. Ibid., hlm 379.
[33]. Ibid.
[34]. Op. Cit., Yatim Badri, hlm 236. 
[35] Fatah Syukur, “Sejarah Peradaban Islam”, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2009), hlm. 214.
[36] Samsul Munir Amin, “Sejarah Peradaban Islam”, (Jakarta: AMZAH, 2010), hlm. 381
[37] Ibid, hlm. 383
[38] Fatah Syukur NC, “Sejarah Peradaban Islam”, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2009), hlm. 216
[39] Ibid, hlm. 216
[40] Samsul Munir Amin, “Sejarah Peradaban Islam”, (Jakarta: AMZAH, 2010), hlm. 391
[41]  Ibid, hlm. 391
[42]  Ibid, hlm. 391
[43]  Fatah Syukur NC, “Sejarah Peradaban Islam”, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2009), hlm. 230
[44] Samsul Munir Amin, “Sejarah Peradaban Islam”, (Jakarta: AMZAH, 2010), hlm. 393
[45]  Fatah Syukur NC, “Sejarah Peradaban Islam”, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2009), hlm. 228
[46] Samsul Munir Amin, “Sejarah Peradaban Islam”, (Jakarta: AMZAH, 2010), hlm. 396
[47]  Ibid, hlm. 397
[48]  Fatah Syukur NC, “Sejarah Peradaban Islam”, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2009), hlm. 221
[49]  Samsul Munir Amin, “Sejarah Peradaban Islam”, (Jakarta: AMZAH, 2010), hlm. 401
[50]  Fatah Syukur NC, “Sejarah Peradaban Islam”, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2009), hlm. 220
[51]  Samsul Munir Amin, “Sejarah Peradaban Islam”, (Jakarta: AMZAH, 2010), hlm. 403
[52]  Ibid, hlm. 404
[53]  Ibid, hlm. 405
[54]  Samsul Munir Amin, “Sejarah Peradaban Islam”, (Jakarta: AMZAH, 2010), hlm. 406
[55] Fatah Syukur NC, “Sejarah Peradaban Islam”, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2009), hlm. 270-271
[56] Samsul Munir Amin, “Sejarah Peradaban Islam”, (Jakarta: AMZAH, 2010), hlm. 413
[57] Fatah Syukur NC, “Sejarah Peradaban Islam”, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2009), hlm. 272
[58] Fatah Syukur NC, “Sejarah Peradaban Islam”, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2009), hlm. 273
[59]Musyrifah Sunanto, “Sejarah Peradaban Islam Indonesia”, (Jakarta: Rajawali Pers, 2010), hlm. 96
[60] Samsul Munir Amin, “Sejarah Peradaban Islam”, (Jakarta: AMZAH, 2010), hlm. 419
[61] Fatah Syukur NC, “Sejarah Peradaban Islam”, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2009), hlm. 274
[62] Ibid, hlm.276
[63] Mundzirin Yusuf, “Sejarah Peradaban Islam di Indonesia”, (Yogyakarta: Penerbit Pustaka, 2006), hlm. 156
[64] Ibid, hlm. 161
[65] Samsul Munir Amin, “Sejarah Peradaban Islam”, (Jakarta: AMZAH, 2010), hlm. 421
[66] Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999). Hlm. 92

[67]Op. Cip, Samsul Munir Amin,  hlm. 423
[68] Zuhairini, dkk, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1997). Hlm.17

[69] Samsul Munir Amin,sejarah peradaban islam, (jakarta: amzah, 2010).Hlm. 424
[70] Samsul Munir Amin, Op., Cit., 425
[71] Ibid, Samsul Munir Amin, hlm. 425
[72]Ibid,  Samsul Munir Amin, hlm. 426
[73] Ibid, Samsul Munir Amin, hlm 426
[74] Ibid, Samsul Munir Amin, hlm 427
[75] Ibid, Samsul Munir Amin, hlm 427
[76]Ibid, Samsul Munir Amin, hlm 427
[77] Ibid, Samsul Munir Amin, hlm 428
[78] Ibid, Samsul Munir Amin, hlm 428
[79] Ibid, Samsul Munir Amin, hlm 428

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ilmu Bayan dalam Balaghoh

Bidang - Bidang Psikologi

Seni Kaligrafi dan Masuknya Seni Kaligrafi ke Indonesia